Cari Blog Ini

Kamis, 13 Oktober 2011

Askep Visikolitiasis


Tinjauan teori
ASKEP VISIKOLITIASIS

A.  Konsep Dasar Medis
                          Konsep dasar dibuat untuk memudahkan pemahaman kita dalam melakukan Asuhan Keperawatan terutama dalam mengkaji dan pemberian intervensi keperawatan. Adapun konsep dasar ini terdiri dari definisi, anatomi, fisiologi, patofisiologi dan skema, manifestasi klinik, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan dan perencanaan pulang.
1.      Anatomi dan Fisiologi
a.  Anatomi
1)      Anatomi Ginjal (Renal)
 Ginjal suatu kelenjar yang terletak dibagian belakang dari kavum abdomeinalis dibelakang peritonium pada kedua sisi vertebral lumbalis III, melekat langsung pada dinding belakang abdomen. Bentuknya seperti biji kacang, jumlahnya ada dua kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari ginjal kanan dan pada umumnya ginjal laki-laki lebih panjang dari ginjal wanita (Syaifuddin, 1999).
2)      Anatomi Ureter
 Ureter terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25-30 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
a).    Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b).    Lapisa tengah lapisan otot polos.
c).    Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa.
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik tiap 5x/menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk kedalam kandung kemih. Gerakan peristaltik urin masuk ke dalam kandung kemih.
3)      Anatomi Vesika urinaria (kandung kemih)
                  Kandung kemih adalah satu kantong berotot yang dapat mengempes, terletak dibelakang simfisis pubis dan kandung kemih mempunyai tiga muara, dua muara ureter serta satu muara uretra. Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak dibelakang simfisis pubis didalam rongga panggul. Bentuk kandung kemih seperti kerucut dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikus medius (Sylvia A. Prince Lorrance W, 1995).
Bagian vesika urinaria terdiri dari:
a).    Fundus yaitu bagian yang menghadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectovesikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent vesika seminalis dan prostat.
b).    Korpus yaitu bagian antara verteks dan fundus.
c).    Verteks bagian yang runcing kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umilikalis.
Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan:
a).    Peritonium (Lapisan Luar)
b).    Tunika Muskularis (lapisan otot)
c).    Tunika Submukosa dan
d).   Lapisan mukosa (lapisan bagian dalam)
4)      Proses miksi atau rangsangan berkemih
                  Distensi kandung kemih oleh air kemih akan merangsang stresreseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinter internus segera diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interhus dihantarkan melalui serabut-serabut saraf para simpatis. Kontraksi spinter eksternus secara volunter ini hanya mungkin bila saraf-saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh. Bila ada kerusakan pada saraf-saraf tersebut maka terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus menerus tanpa disadari) dan retensi urin (kencing tertahan). Persyaratan dan peredaran darah vesika urinarius. Persyaratan diatur torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontaksi spinter internal peritonium melapisi kandung kemih. Peritonuim dapat digerakkan membuat lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih berisi penuh.
5)      Pembuluh Darah
                  Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh Limfa berjalan menuju duktus limfatikus sepanjang arteri umbilikalis (Syaifuddin, 1996).
b.      Fisiologi
         Kandung kemih juga sering disebut buli-buli. Adapun fungsi dari kandung kemih adalah:
1)      Muara tempat akhir zat-zat sisa dari makanan yang kita makan yang tidak diperlukan tubuh atau tidak diroabsorsi tubuh.
2)      Tempat penampungan atau menyimpan air kemih yang akan dikeluarkan melalui uretra (Syaifuddin, 1996).
Ginjal juga merupakan salah satu salah satu organ tubuh yang sangat penting berfungsi sebagai:
1)      Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun.
2)      Mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
3)      Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
4)      Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
5)      Mengeluarkan sisa-sisa metabilosme hasil akhir dari protein ureum, kreatinin, amoniak (Syaifuddin, 1996).
2.      Definisi
a.       Visikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada vesika urinaria atau kandung kemih oleh batu, penyakit ini juga disebut batu kandung kemih (Smeltzer dan Bare, 2000).
b.      Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak divesika urinaria yang menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa sakitnya biasa sakitnya yang menyebar kepaha, abdomen dan daerah genitalia. Medikasi yang diketahui menyebabkan pada banyak klien mencakup penggunaan antasid diamox, vitamin D, Laksatif dan aspirin dosis tinggi yang berlebihan.
batu vesika urinaria terutama mengandung kalsium atau magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat lainnya (Suddarths dan Brunner, 2001)
c.       Vesikolitektomi adalah mengangkat batu vesika urinaria (Tjokro, N.A, et al, 2001).
d.      Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal didalam saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks organik tepatnya pada vesika urinaria atau kandung kemih. Batu kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau fosfat. (Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D dan dr. Hendra Utama, SPFK, 2001).
e.       Batu ginjal didalam saluran kemih (kalkulus Uriner) adalah massa keras seperti batu yang terbentuk disepanjang saluran kemih dan bisa menyebabkan nyeri, perdarahan/ penyumbatan aliran kemih atau infeksi. Batu ini bisa terbentuk didalam kandung kemih (batu kandung kemih). proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis) (hhtp://id.wikipedia.org).


3.      Etiologi                
a.       Faktor Endigen
Faktor genetik, familial pada hypersitinuria, hyperkalsiuria dan hyperoksalouria.
b.      Faktor Eksogen
Faktor lingkungan, pekerjaan, makanan, infeksi dan kejenuhan mineral dalam air minum.
c.       Faktor Lainnya
Infeksi, stasis dan obstruksi urine, keturuna, air minum, pekerjaan, makanan atau penduduk yang vegetarian lebih sering menderita batu saluran kencing atau buli-buli (Syaifiddin, 1996).
d.      Teori Inti (nukleus): kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal pada urine yang sudah mengalami superaturasi.
e.       Teori Matriks: matrisk organik yang berasal dari serum atau protein-protein urin memberikan kemungkinan pengendapan kristal
f.       Teori Inhibitor kristalisasi: beberapa substansi dalam urin menghambat terjadinya kristalisasi, konsentrasi yang rendah atau absennya substansi ini memungkinkan terjadinya kristalisasi (Arief Mansjoer, 1996).
Terbentuknya batu ini bisa terjadi karena air kemih jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena air kemih kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80 % batu terdiri dari kalsium, sisanya mengandung berbagai bahan, termasuk asam urat, sistin dan mineral stuvit. Batu struvit (campuran dari magnesium, amonium daan fosfat) juga disebut ” Batu Infeksi” karena batu ini hanya terbentuk didalam air kemih yang terinfeksi.
Ukuran batu bervariasi, mulia dari tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 cm atau lebih. Batu yang besar disebut ”Kalkulis Staghorn”. Batu ini bisa mengisi hampir keseluruhan peluis renalis dan kalises renallis. Pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisa dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadinya batu di dalam air kemih, antara lain Batu kalsium sebagian besar penderita batu kalsium mengalami hiperkalsiuria (kadar kalsium didalam air kemih tinggi). Batu asam urat yaitu terbentuk jika keasaman air kemih bertambah, karena itu untuk menciptakan suasana air kemih yang alkalis (basa), bisa diberikan kalsium sitrat (http://id.wikipedia.org).
4.      Patofisiologi
Penyebab spesifik dari batu kandung kemih adalah bisa dari batu kalisium oksalat dengan inhibotor sitrat dan glikoprotein. Beberapa promotor (reaktan) dapat memicu pembentukan batu kemih seperti asam sitrat memacu batu kalsium oksalat. Aksi reaktan dan intibitor belum dikenali sepenuhnya dan terjadi peningkatan kalsium oksalat, kalsium fosfat dan asam urat meningkat akan terjadinya batu disaluran kemih. Adapun faktor tertentu yang mempengaruhi pembentukan batu kandung kemih, mencakup infeksi saluran ureter atau vesika urinaria, stasis urine, periode imobilitas dan perubahan metabolisme kalsium.
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat simtomatik ataupun asimtimatik. Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansi organik sebagai inti yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentukan batu. Terjadinya supersaturasi atau kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urine seperti asam urat, kalsium oksalat, sistin akan mempermudah terbentuknya batu Perubahan pola urine yang bersifat asam akan mengendapkan sistin, santin asam dan garam urat, sedangkan pada urine yang bersifat alkali akan mengendapkan garam-garam fosfat (Prof. Dr. Arjatmo Tjokonegoro, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II).
Faktor-faktor resiko mencakup usia dan jenis kelamin, kelainan marfologi makanan yang dapat meningkatkan kalsium dan asam urat, dan adanya kelainan pada ginjal dan saluran (Brunner dan Suddarth, 2001).


                    Patoflowdiagram
                    Usia, jenis kelamin, konsumsi, nutrisi,
                     Genetik, kelainan metabolik

                          Peningkatan elemen tertentu dalam larutan


 

Text Box: Perubahan PH
urineText Box: Supersaturasi                         Endapan kristal elemen kristal tertentu
                diginjal (Nefrolitiasis)


 

                           Endapan kristal dielemen tertentu di kolik ginjal atau pembentukan
                   batu kolik ginjal

                          Endapan kristal turun ke peluis ginjal atau pembentukan batu peluis ginjal

                      Endapan kristal turun ke ureter atau pembentukan batu kandung kemih
              (Vesikolitiasis)


 








Text Box: (Brunner and Suddarth’s, 2001, Prof. dr. Arjatmo Tjokonegoro, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II).
 














5.      Manifestasi Klinis
Ketika batu menghambat dari saluran urin, terjadi abstruksi meningkatkan tekanan hidrostaltik. Bila nyeri mendadak terjadi akut disertai nyeri tokan di seluruh osteovertebral dan muncul mual-muntah maka klien sedang mengalami episode kolik renal. Diare dan demam dan perasaan tidak nyaman diabdominal dapar terjadi. Gejala Gastrointestinal ini akibat refleks dan proxsimitas anatomik ginjal ke lambung, pankreas dan usus besar. Batu yang terjebak di kandung kemih  menyebabkan gelombang nyeri luar biasa, akut dan kolik menyebar ke abdomen dan genitalia. Klien sering ingin berkemih, namun hanya sedikit urine yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasi batu. Gejala ini disebakan kolik ureter, umumnya klien akan mengeluarkan batu yang berdiameter 0,5 – 1 cm, biasanya harus diangkat atau dihancurkan sehingga dapat dikeluarkan secara spontan dan saluran urin membaik dan lancar (Brunner and Suddarth, 2001)
6.      Pemeriksaan Diagnostik
Adapun pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada klien dengan batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah:
a.       Urinalisa
Warna kuning, coklat atau gelap
b.      Foto KUB
Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukkan adanya batu.
c.       Endeskopi ginjal
Menentukan peluis ginjal, mengeluarkan batu kecil.
d.      Elektrokardiogram
Menunjukkan ketidakseimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
e.       Foto Rontgen
Menunjukkan adanya di dalam kandung kemih yang abdormal



f.       IUP (Intra Venous Pylogram)
Menunjukkan perlambatan pengosongan kandung kemih, membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuliti kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih.
g.      Vesikolitektomi (sektio alta)
Mengangkat batu vesika urinaria atau kandung kemih.
h.      Litotripsi bergelombang kejut ekstra koporeal.
Prosedur menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut.
i.        Pielogram Retrograd
Menunjukkan obnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung kemih.
Diagnosa ditegakkan dengan studi ginjal, ureter, kandung kemih, uragrafi intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia darah dengan urien dalam 24 jam untuk mengukur kalsium, asam urat, kreatinin, natrium dan volume total merupakan upaya dari diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta adanya riwayat batu ginjal, ureter dan kandung kemih dalam keluarga didapatkan untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu kandung kemih pada klien (Tjokro, N.A, et al, 2001).
7.      Penatalaksanaan Medis
Menurut Brunner and Suddarth (2001) tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengidentifikasi infeksi, serta mengurangi pbstruksi akibat batu. Cara yang biasanya digunakan untuk mengatasi batu kandung kemih adalah:
a.       Pengangkatan batu
      Pemeriksaan sistoskopik dan pemasangan keteter uretra kecil untuk menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi.
b.      Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal
      Prosedur non invasif yang digunakan untuk menghancurkan batu ginjal.


c.       Ureteroskopi
Memasukkan suatu alat ureteroskopi melalui sistoskop, batu dihancurkan dengan menggunakan laser, atau ultrasound lalu diangkat.
d.      Netolitonomi atau nefrektomi
      Insisi pada ginjal untuk mengangkat batu.
9.   Pencegahan
            Pencegahan pembentukan batu tergantung kepada komposisi batu yang ditemukan pada penderita. Batu tersebut dianalisa dan dilakukan pengukuran kadar bahan yang bisa menyebabkan terjadainya batu dalam air kemih, pencegahan jenis batu dibawah ini adalah:
a.       Batu kalsium, kurangi kandungan kalsium dan fosfor dalam diet, obat diuretik thiazid (misalnya Trichlormetazid) akan mengurangi pembentukan batu yang baru. Dianjurkan banyak minum air putih (8-10 gelas/ hari). Diet rendah kalsium dan mengkonsumsi natrium selulosa fosfot untuk meningkatkan kadar sitrat (Zat penghambat pembentukan batu kalsium). Di dalam air kemih diberikan kalium sitrat. Kadar oksalat yang tinggi dalam air kemih yang menyokong terbentuknya batu kalsium, merupakan akibat dari mengkonsumsi makanan yang kaya oksalat.
b.      Batu fosfat, diet rendah fosfor dapat diresapkan untuk klien yang memiliki batu fosfat jeli aluminum hidroksida dapat diresapkan karena agens ini bercampur dengan fosfor dan mengeksresikan melalui saluran intestinal bukan ke sistem urinarius.
c.       Batu urat untuk mengatasi batu urat, klien harus diet rendah purin untuk mengurangi eksresi asam urat dalam urin, untuk pembentukan asam urat. Makanan tinggi purine (kerang, ikan, hering, asparagus, jamur dan jeroan) harus dihindari. Allopurinol (Zyloprim) dapat mengurangi kadar asam urat serum dalam akskresi asam urat ke dalam urine.

d.      Batu Oksalat
Hindari makanan mencakup sayuran hijau berdaun banyak: kacang, seledri, gula bit, beri hitam, kelembek, coklat, teh, kopi, kacang tanah (http://id,wikipedia,org).
10.   Komplikasi
Adapun komplikasi dari batu kandung kemih ini adalah:
a.       Hidronefrosis
Adalah pelebaran pada ginjal serta pengisutan jaringan ginjal sehingga ginjal menyerupai sebuah kantong yang berisi kemih, kondisi ini terjadi karena tekanan dan aliran balik ureter dan urine ke ginjal akibat kandung kemih tidak  mampu lagi menampung urine. Sementara urine terus menerus bertambah dan tidak bisa dikeluarkan. Bila hal ini terjadi maka, akan timbul nyeri pinggang, teraba benjolan besar di daerah ginjal dan secara progresif dapat terjadi gagal ginjal.
b.      Urimia
Adalah peningkatan ureum di dalam darah akibat ketidakmampuan ginjal menyaring hasil metabolisme ureum, sehingga  akan terjadi gejala mual-muntah, sakit kepala, penglihatan kabur, kejang, koma, nafas dan keringat berbau urine.
c.       Pyelonefritis
Adalah infeksi ginjal yang disebabkan oleh bakteri yang naik secara assenden ke ginjal dan kandung kemih. Bila hal ini terjadi maka akan timbul panas yang tinggi disertai menggigil, sakit pinggang, disuria, poliuria dan nyeri ketok kosta vertebra.
d.      Gagal ginjal akut sampai kronis
e.       Obstruksi pada kandung kemih
f.       Ferforasi pada kandung kemih
g.      Hematuria atau kencing darah
h.      Nyeri pinggang kronis
i.        Infeksi pada saluran ureter dan vesika urinaria oleh batu (Soeparman, et. al, 1960).
B.     Konsep Dasar Keperawatan
                  Asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari lima tahap, yaitu: pengkajian, perumusan, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Nursalam, 2001, dikutip dari iyer, 1996).
1.      Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan upaya untuk mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis mulai dari pengumpulan data, identifikasi, dan evaluasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan data dengan cara anamnesa yang diperoleh dari wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, data penunjang dan status kesehatan klien. Data yang dikumpulkan terdiri atas data dasar dan data (Nursalam dukutip dari Taylor et.al, 1996)
Setelah pengumpulan data, langkah berikutnya dalam pengkajian adalah mengelompokkan data yang terdiri dari data biologis, data psikologis, sosial dan spiritual. (Nursalam dikutip dari PPNI, 1994). Dasar data pengkajian kien dengan vesikolitiasis (Doenges, 2000) meliputi:
a.       Aktifitas/ istirahat
Gejala        :  Keterbatasan aktifitas/ mobilisasi.
b.      Sirkulasi
Tanda         : Tekanan darah dalam batas normal, kulit hangat dan kemerahan.
c.       Eliminasi
Gejala         : Obstruksi sebelumnya, penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh.
d.      Makanan dan cairan
Gejala         : Diet tinggi purin, kalsium oksalat atau fosfat ketidakcukupan pemasukan cairan.
e.       Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala        : Nyeri akut saat eliminasi menyebar di vesika urinaria.
Tanda        : Nyeri tokan pada arrea ginjal saat palpasi.
f.       Keamanan
Gejala        : Penggunaan alkohol, demam, menggigil.
g.      Penyuluhan
Gejala         : Riwayat kalkulus dalam keluarga, penyakit ginjal, riwayat penyakit halus, hiperparatiroidisme, pemasukan berlebihan kalsium atau vitamin.
2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah masalah kesehatan aktual dan potensial dimana berdasarkan pendidikan dan pengalaman dia mampu dan mempunyai kewenangan memberikan tindakan keperawatan (Nursalam, 2001 dikutip dari Carpenito 2000).
Adapun tujuan dari diagnosa keperawatan adalah untuk mengidentifikasi masalah dimana ada respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit yang dihubungkan dengan penyebab suatu masalah (etiologi) dan kemampuan klien untuk mencegah dan menyelesaikan masalah kesehatan (Nursalam, 2001).
Berdasarkan semua data pengkajian, diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan Post Vesikolitektomi Atas Indikasi Vesikolitiasis  menurut Doenges 2000 adalah sebagai berikut :
a.       Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah.
b.      Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan prosedur bedah.
c.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
d.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah.
e.       Kurang pengetahuan tentang proses keperawatan, pengobatan berhubungan dengan kurang informasi
f.       Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan insisi bedah
3.  Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan, dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu “sistem” untuk menentukan diagnosa yang akan diambil tindakan pertama kali. Salah satu sistem yang bisa digunakan adalah hirarki “kebutuhan manusia” (Nursalam 2001 hal.52) dikutip dari Iyer et.al 1996.
a.       Hirarki  "Maslow".


 



Aktualisasi
Diri


 

Harga diri


 

Mencintai dan dicintai


 

Rasa aman dan nyaman


 

Kebutuhan fisiologis, O2, CO2, elektrolit, makanan, seks

Gambar Hirarki Maslow Tentang Kebutuhan Dasar Manusia
Keterangan :
1)      Kebutuhan fisiologis ( Physiological Need ) O2, CO2, Elektrolit, makanan dan seks.
Contoh:  Udara segar, air, cairan, elektrolit, makanan.
2)      Kebutuhan rasa aman : ( Safety Need)
Contoh: Terhindar dari penyakit, pencurian dan perlindungan hukum.
3)      Kebutuhan mencintai dan dicintai (Love Need )
Contoh: Mendambakan kasih sayang, ingin mencintai dan dicintai, diterima oleh kelompok.
4)      Kebutuhan harga diri (Esteem Need)
Contoh: Dihargai dan menghargai respek dari orang lain, toleransi dalam hidup berdampingan.
5)      Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualitation Need)
Contoh: Ingin diakui, berhasil dan menonjol dari orang lain.
b.      Hirarki “Kalish”
Kalish (1983) lebih jauh menjelaskan kebutuhan Maslow dengan membagi kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk “bertahan dan stimulasi.” Kalish mengidentifikasikan dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup: udara, air, temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri. Jika terjadi kekurangan kebutuhan tersebut klien cenderung mengunakan semua prasarana untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Hanya saja mereka akan mempertimbangkan kebutuhan yang paling tinggi prioritasnya, misalnya keamanan atau harga diri. (Nursalam, 2001, hal. 53) dikutip dari Iyer et. al (1996).
        Tahapan dalam perencanaan ini meliputi: menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian (Nursalam, 2001). Selain itu penulis juga menggunakan skala urgen (1-10) dan non urgen disesuaikan dengan kebutuhan klien.
1)      Menentukan kriteria hasil berdasarkan “SMART”:
S :  Spesifik (Tujuan harus spesifik dan tidak menimbulkn rti ganda)
M: Meansurabale (Tujuan keperawatan harus dapat diukur, khususnya tentang prilaku klien: dapat dilihat, didengar, diraba, dirasakan dan bau.
A: Achievable (Tujuan harus dapat dicapai).
R:  Reasonable (Tujuan harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah).
T: Time (Tujuan keperawatan).
2)      Menentukan rencanan keperawatan
               Adapun desain spesifik intervensi untuk membantu klien dalam mencapai kriteria hasil. Rencana tindakan dilakukan berdasarkan komponen penyebab dari diagnosa keperawatan
               Menurut Bulecheck dan Mc Closkey (1989), intervensi keperawatan adalah tindakan langsung kepada klien yang dilaksanakan oleh perawat.
3)      Dokumentasi
                     Adapun suatu proses informasi penerimaan, pengiriman dan evaluasi pusat rencana yang dilaksanakan oleh seseorang perawat profesional (Ryan, 1973). Informasi yang didapat selama tahap pengkajian dan diagnosa keperawatan (Nursalam, 2000).
Rencana Keperawatan.
a.              Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah.
   Tujuan             : Nyeri berkurang sampai hilang
   Kriteria hasil:
1). Klien melaporkan nyeri hilang, skala nyeri 0 (skala nteri 0-10)
2). Ekspresi wajah klien rileks
3). Klien tenang dan dapat beristirahat.
Intervensi
1). Kaji status nyeri (lokasi), durasi dan intensitas.
Rasional: Membantu mengevaluasi tempat obstruksi dan gerakan kalkulus.
2). Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan perubahan kejadian
      Rasional:  Memberikan kesempatan untuk pemberian analgesik sesuai waktu.
3). Berikan tehnik relaksasi dan lingkungan istirahat.
      Rasional:  Meningkatkan relaksasi, meningkatkan koping.
4). Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi
Rasional:  Untuk menurunkan kolik uretral dan meningkatkan relaksasi otot
b.      Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan prosedur bedah.
                  Tujuan                   : Eliminasi urine kembali lancar
                  Kriteria hasil          :
1).  Berkemih dalam jumlah normal tanpa retensi
2). Menunjukkan prilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih/  urinaria
               Intervensi     :
1). Kaji keluaran urine, selidiki penurunan/ penghentian aliran urine tiba-tiba.
Rasional:  Retensi dapat terjadi karena edema area bedah bekuan darah dan spasme kandung kemih (Doenges, 2000).
2). Dorong pemasukan cairan sesuai toleransi
Rasional:  Mempertahankan hoidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urine (Doenges, 2000).
3). Ajurkan klien, bahwa eliminasi urine dengan drainase urin tiddak dilepas dan keteter dilepas dan harus teratasi sesuai kemajuan.
         Rasional: Informasi membantu klien untuk menerima masalah (Doenges, 2000)
4). Kolaborasi:
         Pertahankan drainase urine sesuai indikasi
         Rasional:   Untuk mempertahankan potensi/ aliran urine (Doenges, 2000).
c.       Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
Tujuan                 : Dapat mencapai kemandirian dalam memenuhi kebutuhan ADL.
   Kriteria hasil:
1). Klien dapat melakukan ADL secara mandiri.
2). Klien tampak rileks.
3). Mengutarakan keinginan dan berpartisipasi dalam aktivitas
Intervensi:
1). Kaji kemampuan  klien akan ADL, catat adanya laporan kelelahan, dan kesulitan melakukan aktifitas.
      Rasional:  Mempengaruhi pilihan intervensi dan tujuan (Doenges, 2000).
2).  Jelaskan penyebab kelelahan
      Rasional: Sebagai dasar pengetahuan untuk menentukan intervensi berikutnya (Doenges, 2000).
3).  Berikan kesempatan pada klien untuk ikut berpartisipasi secara adekuat untuk melakukan aktivitas sehari-hari, sebagian dan seluruhnya (Doenges, 2000).
4).  Anjurkan untuk mengubah posisi secara sering bila tirah baring.
      Rasional: Menurunkan ketidaknyamanan, mempertahankan kekuatan otot/mobilisasi sendi, meningkatkan sirkulasi dan mencegah kerusakan kulit (Doenges, 2000).
5).  Libatkan keluarga dalam membatu klien beraktivitas.
      Rasional  : Memberikan pengalaman pada keluarga dan mendorong keluarga untuk bersama-sama dalam melakukan atau membantu klien beraktivitas (Doenges, 2000)
d.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi pembedahan.
      Tujuan           : Meningkatkan penyembuhan luka tepat pada waktunya dan bebas tanda infeksi.
      Kriteria evaluasi : Luka bersih tidak ada tanda-tanda infeksi
      1). Observasi luka, cata karakteristik drainase.
            Rasional:  Perdarahan pasca operasi paling sering terjadi selama 48 jam pertama, dimana infeksi dapat terjadi kapan saja. Tergantung pada tipe penutupan luka (Doenges, 2000).
      2). Ganti balutan sesuai kebutuhan, gunakan tehnik steril.
            Rasional:   Sejumlah besar cairan pada balutan luka operasi menuntut pergantian dengan sering menurunkan iritasi kullt dan potensial infeksi (Doenges, 2000).
                        3). Bersihkan luka sesuai indikasi, gunakan cairan Isotonic Normal Saline 0,9 % atau larutan antibiotik.
            Rasional:   Diberikan untuk mengobati inflamasi atau infeksi post operasi atau kontaminasi inter personal (Doenges, 2000).
e. Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, perawatan dn pengobatan berhubungan dengan kurang informasi.
Tujuan       :  Klien dan keluarga mengerti tentang penyakit.
            Kriteria hasil:
1).  Klien dan keluarga mengutarakan pemahaman proses penyakit.
2). Klien dan keluarga memulai perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam regimen perawatan.
Intervensi:
1). Kaji tingkat pengetahuan klien.
Rasional         :      Memberikan pengetahuan dasar dimana klien dan keluarga mengerti tentang membuat pilihan berdasarkan informasi (Doenges, 2000).
2). Berikan pendidikan kesehatan mengenai.
a). Pengertian
b). Penyebab
c). Tanda dan gejala
d). Pencegahan
e). Penatalaksanaan
Rasiona         :       Untuk menambah pengetahuan klien dan dapat meningkatkan kerja sama dalam program terapi (Doenges, 2000).
3). Identifikasi tanda dan gejala yang membutuhkan evaluasi medikal.
Rasional       :        Pengenalan awal dan pengobatan perkembangan komplikasi (Doenges, 2000)
4). Identifikasi sumber-sumber yang tersedia misalnya pelayanan perawatan di rumah.
Rasional       :        Meningkatkan dukungan untuk klien selama peroide penyembuhan.
f.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan insisi pembedahan.
Tujuan          :  Meningkatkan waktu penyembuhan dengan tepat, bebas dari infeksi serta tidak ada tanda demam.
Kriteria evaluasi: Pertahankan lingkuangan asoptik
Intervensi:
1). Perhatikan kemerahan disekitar luka operasi
      Rasional  : Kemerahan paling umum disebabkan masuknya infeksi ke dalam tubuh di area insisi pembedahan (Doenges, 2000).
2). Ganti balutan sesuai indikasi
      Rasional  : Balutan basah media untuk pertumbuhan bakterial (Doenges, 2000).
3). Kaji tanda-tanda vital
      Rasional  : Peningkatan suhu menunjukkan komplikasi insisi pembedahan (Doenges, 2000).
4). Kolaborasi:
                        Laporkan tanda-tanda adanya infeksi seperti kemerahan, bengkak atau adanya cairan (Doenges, 2000).
4.  Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik (Nursalam, 2001).
Tahapan ini merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan, oleh karena itu pelaksanaannya dimulai setelah rencana tindakan dirumuskan dan mengacu pada rencana tindakan sesuai skala sangat urgent dan tidak urgent (non urgent).
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu persiapan, perencanaan, dan pendokumentasian (Nursalam, 2001 dikutip dari Griffit 1968).
a.       Fase persiapan, meliputi :
1.      Review antisipasi tindakan keperawatan
2.   Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan.
3.   Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul
4.   Persiapan alat
5.      Persiapan lingkungan yang kondusif
6.      Mengidentifikasi aspek hukum dan etik.
b.      Fase intervensi, meliputi :
1.      Independen: tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk  atau perintah dokter serta tim kesehatan lainnya.
2.      Interdependent: tindakan perawat yang memerlukan kerja sama dengan tim kesehatana lainnya (gizi, dokter, laboratorium, dan lain-lain).
3.      Dependent: berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana tindakan medis dilakukan.
c.       Fase dokumentasi
      Merupakan suatu catatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan.Dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan pada klien dengan gastritis perawat dapat berperan sebagai pelaksana keperawatan, memberi suport, pendidik, advokasi, dan pencatatan/penghimpunan data.

5.  Evaluasi  
Adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematis pada status kesehatan klien (Nusalam, 2001 dikutip dari Griffit dan Cristensen, 1986). Sedangkan Ignativicius dan Bayne 1994 yang dikutip oleh Nursalam mengatakan evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai.
Evaluasi terdiri atas dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif disebut juga evaluasi proses, evaluasi jangka pendek, atau evaluasi berjalan, dimana evaluasi dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi hasil, evaluasi akhir, evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan pada akhir tindakan keperawatan paripurna dilakukan dan menjadi suatu metode dalm memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format “SOAP” (Nursalam, 2001).
Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan kembali umpan balik rencana keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan standar yang telah ditentukan sebelumnya. Hasil dari evaluasi yang diharapkan dalam pemberian tindakan keperawatan dalam proses keperawatan pada klien dengan post vesikolitektomi  adalah: nyeri akut insisi bedah teratasi,kerusakan eliminasi urine teratasi,intoleransi aktivitas teratasi,kerusakan integrasi jaringan kembali sembuh,kurang pengetahuan  teratasi,resiko infeksi tidak terjadi.Hal ini sesuai dengan standar tujuan yang telah ditentukan pada tahap perencanaan tindakan.
6.      Perencanaan pulang
a.  Diet tinggi kalori dan protein yakni telur,daging,susu dan lain –lain  untuk proses penyembuhan.
b. Diet minum banyak air putih 3000 cc perhari dan hindari minum kopi,alkohol dan yang bersoda serta makanlah makanan yang banyak mengandung serat
c.   Hindari makanan yang banyak mengandung kalsium oksalat seperti: susu, keju, jeroan, ikan teri, kentang, ubi, bayam, kacang-kacangan, kangkung, teh dan coklat karena dapat mencegah terbentuknya kembali batu ginjal.
d.   Memberikan penjelasan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan gejala pencegahan komplikasi dan panatalaksanaan penyakit.
e.   Rencana kontrol ulang untuk mengenai perkembangan pemulihan penyakit saat dirumah (Smeltzer and Bare, 2001)

        





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar